Kamis, Juni 18, 2009

29 Tahun Perjalanan Hidup dan Peran Dilahirkannya Manusia




oleh : Nilam Ramadhani

19 Juni 2009 adalah saat dimana aku sudah menginjakkan kaki selama 29 tahun di dunia ini. Waktu begitu cepatnya, hingga tanpa terasa sudah begitu banyak lembaran lalu yang masih membekas dalam ingatanku. Banyak orang mengatakan kalau moment itu disebut sebagai “Ulang Tahun”. Bagiku, dua kata itu yang sungguh membuat hati tertawa geli. Seolah waktu bisa diputar-putar ulang hingga tak berbatas. Pesta, traktiran, foya-foya, senang-senang, adalah sekumpulan hal yang sangat tidak relevan buatku dalam menyikapi “ritual ulang tahun”.

Kalau mau melihat ke belakang, begitu banyaknya dosa yang telah kulakukan, yang sangat tidak sebanding dengan kebaikan yang ingin dicapai. Semestinya aku juga sadar, semakin hari waktu di dunia ini menjadi semakin sedikit. Dengan waktu yang semakin sempit inilah, seharusnya aku memperbanyak memohon ampun kepada Allah Sang Maha Kuasa. Aku juga merasa masih banyak yang perlu dibenahi dalam diri ini. Memang, aku hanyalah manusia biasa yang masih penuh dengan kekhilafan dan kekurangan. Sehingga wajar saja kalau selama ini aku masih lebih banyak meminta daripada memberi kepada orang lain.

Saat ditanya tentang pilihan dalam hidup ini, tentu aku akan memilih setia kepada yang benar. Pengalaman lalu yang dapat menjerumuskanku ke dalam lubang kehinaan, semoga Engkau ampuni ya Rabb! Memang benar, Tuhan selalu menyayangi hamba-hambaNya yang mau memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Tak kan kusia-siakan kesempatan ini. Untuk itulah, beri petunjukMu ya Rabb supaya aku bisa menjadi manusia yang dapat memberi manfaat kepada sesama. Karena aku yakin, dengan mengajarkan pengetahuan kepada orang lain dapat membuat hidup lebih bermakna. Kuanggap itulah jalan pilihan dalam hidupku. Dengan segala kekurangan ini, berilah kepadaku Ya Rabb ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dapat menuntunku ke jalanMu yang lurus.

Bukan perkara mudah untuk melakukan semua itu. Dibutuhkan konsistensi dalam perjuangan. Memang belum banyak yang telah kulakukan, belum sempurna yang bisa kuperbuat. Tapi setidaknya, benih-benih itu sudah mulai aku tabur. Karena keyakinanku, tiap manusia memiliki peran yang berbeda ketika ia dilahirkan di dunia. Peran itu seharusnya memiliki andil besar dalam proses perubahan hidup diri dan orang lain ke arah yang lebih baik. Tidak ada kebaikan yang lebih baik selain kebaikan itu sendiri. Tapi kadang ada saja aral dan godaan tatkala niat baik sudah diluruskan. Jalan tak semulus yang dikira. Tapi hati kecilku membantah, ”Masa bodoh dengan kerikil itu! Menanam padi, rumput ilalang saja tumbuh, apalagi kalau menanam rumput, jangan harap padi ikut tumbuh!”.

Filosofi itu yang selalu aku pegang tatkala batu sandungan mulai menerpaku. Tak ada jalan yang lurus dan mulus bagi sosok manusia ketika ingin meraih kebahagiaan. Namun ketika diri sudah memahami bahwa hidup penuh dengan hitam dan putih, maka rintangan yang ada bukanlah sebuah alasan perjuangan bakal diakhiri. Aku juga bersyukur kepada Allah karena telah memiliki Ibunda, mendiang Ayahanda, Kakak, keluarga, sahabat, orang-orang dekat, yang begitu baik dan menginspirasi. Tanpa engkau-engkau semua, mungkin saat ini aku masih tersesat di hutan belantara penuh dosa dan luka. Tak ada yang lebih berarti selain sosok pribadi yang dapat mengerti dan memahami, baik dalam suka dan duka.

Sahabat telah banyak mengajariku tentang arti hidup yang sebenarnya. Sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang pernah kulakukan selama 29 tahun yang telah berlalu. Tak kan pernah lekang dari ingatan ketika dulu aku masih menjadi anak sekolahan. Yang bisanya hanya meminta uang saku, kiriman, dan sering membebani kedua orangtua. Sekarang aku baru tersadar, kalau mencari nafkah penghidupan itu tidak semudah meminta-minta. Betapa berdosanya bagi seorang anak yang kepandaiannya cuma meminta dan meminta kepada orangtua dengan berdalih untuk memanjakan dirinya. Mungkin bahkan sekarangpun hal itu masihlah sama dalam diriku. Pengalaman selama itulah yang banyak membuatku belajar. Karena sepahit apapun pengalaman di masa lampau, kadang akan menjadi penolong ketika dihadapkan dengan permasalahan hidup yang sama di masa kini dan mendatang.

Tak ada yang abadi. Hidup sebenarnya adalah memperbanyak memberi, sebab memberi pada hakikatnya adalah menerima. Karena kehidupan di dunia adalah sementara, maka segala bentuk kerakusan, haus kekuasaan, dan kesombongan tidak akan membawa manusia ke dalam keberkahan dan kedamaian. Semua akan kembali kepada Sang Pencipta manusia. Oleh karenanya, hanya kebaikan yang dapat membawa manusia kedalam keabadian kelak di akhirat.

Maka, di 29 tahun aku dilahirkan di dunia ini, ijinkanlah untukku meminta maaf kepada kalian orang-orang yang sangat kukasihi. Itulah manusia, penuh dengan kekhilafan dan kekeliruan. Tak selalu yang kulakukan benar, tak selamanya yang kuperbuat akan diterima. Untuk itu, di tengah perjalanan ini aku juga memohon kepada kalian untuk tidak lelah membimbingku, mengajariku. Ingatlah, peran manusia satu dengan yang lainnya tidak akan selalu sama. Yang seharusnya sama adalah dalam perbedaan peran itu hendaknya sama-sama menuju kepada keridhaan Ilahi. Karena dicintai oleh Sang Pencipta manusia adalah hakikat utama dalam kehidupan ini. Semoga...

Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...

Selasa, Mei 12, 2009

Cyber Space, Tren Facebook dan Fenomena Jejaring Sosial


oleh : Nilam Ramadhani

Tidak dipungkiri lagi, internet saat ini memberi peran begitu besar terhadap sebuah bentuk komunikasi dunia maya. Era baru berkomunikasi ini betul-betul dilihat sebagai peluang bagi penyedia layanan jejaring sosial (social networking). Sudah lumayan banyak provider jejaring sosial yang beredar. Mulai dari mailing list Yahoo, Friendster, Hi5, Flixter, MySpace, dan yang paling popular saat ini yaitu Facebook. Anemo masyarakat internet dunia terhadap penggunaan aplikasi layanan ini bisa dibilang begitu fantastis. Untuk Facebook saja, di tahun 2009 ini Mark Zuckerberg sebagai CEOnya mengklaim pengguna Facebook sudah menembus angka 200 juta! Padahal Facebook baru dirilis pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan pengguna Facebook sebesar 40% di tahun 2008. Hal itu sekaligus menempatkan Indonesia di posisi pertama sebagai negara dengan pertumbuhan anggota Facebook tercepat di dunia tahun 2008 (sumber : Google Trends).
Banyak fasilitas memang yang di berikan (embedded) pada aplikasi ini. Mulai dari yang standar seperti isi biodata, sekedar komentar, daftar teman, hingga upload foto, video, chat, tagging, dan memasukkan aplikasi. Dari segudang fasilitas yang diberikan itulah, fenomena jejaring sosial ini bermula. Jelas saja, dengan memasukkan gambar, biodata, dsb serta bersedia untuk membaginya ke seluruh user yang terhubung, menjadikan terbukanya “silaturrahmi” era baru. Banyak fakta yang menyebutkan bahwa dengan aplikasi jejaring sosial ini, sudah sejumlah orang yang sebelumnya tidak pernah bertemu, malah di dunia maya saling berjumpa. Yang sebelumnya hanya memiliki segelintir teman, menjadi lebih banyak kenalan setelah bergabung dengan layanan ini.
Bisa dibilang, fenomena jejaring sosial di dunia maya adalah bentuk lain dari wadah reunian para anggotanya. Pengalaman pribadipun menyatakan demikian. Banyak teman-teman lama yang sudah hitungan tahun tidak pernah kontak, dipertemukan dalam forum aplikasi jejaring sosial ini. Bahkan ada beberapa pihak yang sudah memasang iklan komersial di samping kiri-kanan dinding tampilan. Sehingga, dengan berbagai kemudahan dan variasi yang diberikan, semakin naik daun saja popularitas dari layanan itu. Tentunya hal tersebut membawa berkah tersendiri baik bagi pengembang dan pemakainya.
Tren social networking ini membawa penggunanya ke dalam sebuah komunitas yang benar-benar terbuka (open community), utamanya komunitas yang berbasiskan IT. Tidak hanya itu, Facebook juga begitu digandrungi oleh para politisi, termasuk di Indonesia. Karena selain lebih mudah menjaring suara dukungan ke para konstituennya, cara ini juga sangatlah murah. Tanpa harus merogoh gocek dalam-dalam untuk biaya iklan kampanye, cukup memakai aplikasi yang 100% gratis ini sebagai mediasi. Cara inilah yang dilakukan oleh Presiden AS Barrack Obama dalam berkampanye.
Memang banyak hal positif yang didapat ketika kita berinteraksi dengan software jejaring sosial ini, utamanya dalam menjalin komunikasi di dunia maya. Namun ada beberapa analisa yang menilai, keranjingan Facebook (facebookcholic) justru dapat mengganggu bentuk interaksi sosial secara nyata. Penyebabnya, karena pengguna sudah keasyikan berinteraktif-ria di depan komputer, hingga akhirnya dia tidak sempat untuk bersosialisasi dengan lingkungan nyata di sekitar, seperti tetangga. Untuk itulah, perlunya sebuah keseimbangan antara bersilaturrahmi di dunia maya dengan dunia nyata.
Selain itu yang perlu diwaspadai adalah informasi biodata diri, gambar, video, dll haruslah diperhitungkan ketika kita memasukkannya. Karena bisa saja ada pihak-pihak yang ingin menyalahgunakan segala informasi diri yang kita cantumkan itu. Misalnya pemalsuan identitas. Ingat, bergabung dalam aplikasi jejaring sosial berarti harus tahu konsekuensi terhadap informasi diri kita yang di publish. Apabila kita sudah yakin dengan informasi yang di masukkan, ya tidak perlu resah dong dengan berbagai kemungkinan tadi :).
Namun semuanya tetaplah dikembalikan kepada diri kita masing-masing. Yang paling penting adalah, bagaimana memaksimalkan hal-hal positif yang dapat dibangun dengan menjalin jejaring sosial di dunia maya. Selain itu juga dengan meminimalisir segala dampak negatif dari kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi nantinya. Jika perspektif untuk bergabung dengan layanan jejaring sosial telah mempertimbangkan adanya keseimbangan seluruh dampaknya, maka tak perlu risau akan pengaruh tidak baiknya. Semuanya akan lebih terasa menyenangkan. Tapi jangan lupa dengan tugas utama kita lho.. :). Selamat bersilaturrahmi…

Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...

Minggu, Mei 03, 2009

Beberapa Tips Ngeblog Sehat


oleh : Nilam Ramadhani

Sebelum memulai ngeblog, ada baiknya kita harus mencari tahu terlebih dahulu gimana sih supaya ngeblog jadi menyenangkan??! Soalnya ada yang bilang, blog adalah cerminan dari pribadi si empunya (memang iya sih :) ). Ngeblog hari ini seperti sudah menjadi budaya digital. Jadi tidak ada salahnya bagi yang baru memulai, atau bahkan yang sudah professional sekalipun mengikuti beberapa saran berikut :
1. Pilih dan tentukan penyedia layanan blog yang sesuai dengan selera
Berbicara tentang selera, pastilah tiap pengguna memiliki kriteria tertentu yang berbeda. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika sebelum memulai ngeblog kita “selidiki” dulu tiap penyedia layanan blog. Perlu diakui, tiap penyedia layanan blog pastilah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saat ini telah banyak penyedia layanan blog gratis yang beredar. Katakanlah seperti blogger, wordpress, multiply, b2Evolution, dan sebagainya. Dari sekian banyak penyedia itu, kita harus menentukan penyedia blog mana yang pas dengan keinginan. Sebab, blog akan kita pakai seterusnya ( itupun kalau kita mau serius ngeblog loh !! :) ). Untuk itulah penting kiranya memulai ngeblog dengan melalui tahapan seleksi. Kadang ada satu user yang memiliki banyak blog dengan penyedia yang berbeda. Sebetulnya tidak masalah sih, cuma hanya akan menghilangkan nilai konsistensi saja (ce’ilee :)).
2. Menentukan tema dan isi blog
Membuat blog tentunya memiliki berbagai macam tujuan. Namun intinya adalah : publikasi (ya ngga’ :) ). Supaya isi blog tidak terkesan ‘nano-nano’, gado-gado, atau tidak konsisten terhadap isi, maka kita harus tentukan tema dari blog yang akan kita buat. Tema dan isi dari blog akan menunjukkan kepada pengunjung akan spesifikasi dari si empunya. Hal ini juga berkaitan dengan segmentasi yang akan dibidik nantinya. Misal tema tentang pendidikan, agama, politik, teknologi, kedokteran, sastra, atau hanya sekedar publikasi buku diary :) ) Karena spesifikasi ( kata lain dari tema isi :)) akan lebih meningkatkan personal image branding (meminjam istilah Romi Satriawahono) ketimbang isi blog yang tidak jelas arah dan segmentasinya. Jadi penting banget untuk menentukan theme dari blog yang akan kita bangun.
3. Mulailah ngeblog
Setelah kita menemukan layanan penyedia blogging yang pas dengan selera, dan sudah menentukan tema dari blog, maka langkah selanjutnya adalah memulai ngeblog tentunya :). Mulailah dengan banyak mengeksplorasi menu-menu dan layanan yang diberikan oleh provider blog. Hal itu dilakukan untuk membuat kita menjadi familiar terhadap fasilitas yang diberikan. Selain itu juga akan membuat pemilik blog lebih mudah memodifikasi tampilan, menu, widget, dan segala pernak-pernik yang dapat mempercantik tampilan blog. Kalau sudah dihasilkan bentuk tampilan dan fungsi yang pas dari blog kita, berarti blog sudah mewakili kepribadian si pemiliknya. Ada banyak blog layanan tutorial yang tersedia di internet. Jadi bagi seorang pemula (seperti saya contohnya :)) tidak perlu takut untuk tidak bisa mempercantik blog. Yang perlu sering kita lakukan adalah blogwalking ke blog tetangga yang disitu terdapat beberapa tips teknis mempercantik blog. Setelah dapat tips dan trik ngeblog, barulah kita praktekkan! Kalau kita mau bersabar dan berusaha, pasti bisa!
4. Rawat baik-baik blog kita
Blog juga butuh perawatan. Merawat blog bisa berarti kita terus memasukkan posting yang sesuai dengan tema blog. Bisa juga kita melakukan backup dari seluruh isi blog termasuk kode template-nya. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan ketika kita sedang mengutak-atik kode template dari blog. Karena kebanyakan blogger suka berekspresi dengan memasukkan kode-kode program untuk memodifikasi blog. Biar aman, salah satu cara mengamankan kode blog kita, ya dengan memback-up-nya, ya gak?! :) Selain itu juga perlu mencari ide-ide, informasi, referensi untuk memunculkan kreativitas menulis/memasukkan posting ke dalam blog. Karena banyaknya postingan mempengaruhi besarnya traffic pengunjung blog.

Kira-kira itulah beberapa hal non-teknis diatas yang dapat membuat aktivitas ngeblog menjadi lebih “sehat” dan menyenangkan. Yang paling penting, dengan ngeblog, kita dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang lebih baik. Bukankah hal itu lebih bermanfaat?? Selamat ngeblog dan berekspresi. :)

Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...

Sabtu, April 25, 2009

Pengalaman Pertama Menjadi TPI UNAS


oleh : Nilam Ramadhani

Pada tanggal 20 sampai dengan 24 April 2009 lalu, saya berkesempatan menjadi TPI UNAS (Tim Pemantau Independen Ujian Nasional) tingkat SMU. Kebetulan, saya ditugaskan mengawasi pada SMU swasta yang letaknya tak jauh dari rumah. TPI UNAS dibentuk berdasarkan Permendiknas Nomor 78 Tahun 2008, yang secara umum bertujuan agar pelaksanaan UNAS lebih objektif, berkeadilan, dan akuntabel. TPI UNAS melibatkan semua unsur pendidikan, termasuk didalamnya adalah Perguruan Tinggi. Jadi, harapan dibentuknya TPI adalah sebagai kontrol agar tidak terjadi kecurangan-kecurangan selama berlangsungnya UNAS.
Namun, masih saja terjadi pelanggaran-pelanggaran yang dapat mencoreng kualitas dan kemurnian dari UNAS. Banyak media massa dan elektronik memberitakan adanya kecurangan ini. Misalnya ditemukan kunci jawaban soal yang sudah tersebar kepada peserta UNAS pada beberapa sekolah di nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kebocoran soal sebelum naskah ujian diberikan. Bisa jadi kebocoran itu berpangkal pada proses percetakan dan juga pendistribusian naskah soal ke sekolah. Kalau sudah begini, lantas apa yang menjadi latarbelakangnya? Kenapa masih saja terjadi pelanggaran yang “diluar kemampuan” peserta UNAS itu?
Pada kenyataannya, pelaksanaan UNAS masih menjadi momok yang menakutkan. Setidaknya itu yang dirasakan oleh pihak sekolah, siswa, dan para orangtua. Mengapa? Karena evaluasi kelulusan siswa yang menempuh studi kurang lebih 3 tahun di sekolahnya, ditentukan oleh hasil UNAS yang berlangsung selama 5 hari saja itu. Jika ada satu saja nilai mata ujian yang dibawah standar, maka dapat dipastikan peserta yang bersangkutan tidak lulus. Meskipun ada ujian susulan atau bahkan Paket C, tetap saja kekhawatiran selalu membayangi. Di lain sisi, tidak ada perbedaan level soal untuk tiap sekolah. Tingkatan soal dipukul rata bagi semua sekolah negeri, swasta, perkotaan, dan pelosok. Hal inilah yang semakin menambah deg-degan sejumlah pihak akan hasil UNAS nantinya.
Bagi sekolah yang terletak di pedesaan misalnya, memiliki kecenderungan pada terbatasnya akses informasi, pengetahuan serta buku-buku penunjang pelajaran. Dikarenakan medan dan aspek geografis sehingga pendistribusian buku pelajaran menjadi terhambat dan terlambat. Belum lagi faktor minimnya dana yang sanggup digalang bagi sekolah tertentu. Pendanaan menjadi salah satu tolak ukur penting akan kemajuan sebuah sekolah. Dengan dana yang tersedia, akan memudahkan bagi sekolah untuk mengadakan berbagai fasilitas operasional penunjang belajar, salah satunya adalah buku.
Hal tersebut mungkin tidak berlaku bagi sekolah yang letaknya diperkotaan, yang notabene akses informasinya lebih cepat. Pengaruhnya, terjadi perbedaan tingkat intelektualitas pada siswa sekolah di perkotaan dan di pelosok desa. Namun, belum ada mekanisme yang dapat memberikan fleksibilitas adanya disparitas tingkat intelektual pada naskah soal UNAS. Siswa dengan tingkat kecerdasan dibawah rata-rata memiliki kesamaan dalam mengerjakan soal UNAS dengan siswa yang sudah up to date terhadap informasi dan pengetahuan.
Memang masih maraknya pelanggaran UNAS melibatkan banyak aspek mata rantai dan hukum sebab-akibat. Jadi permasalahan diatas tidak bisa ditinjau dari satu sisi saja. Lagipula, tingkat kelulusan siswa tidak dapat dijadikan tolak ukur mutlak kualitas dari sebuah hasil pendidikan. Banyaknya siswa yang lulus UNAS di sebuah sekolah bukanlah sebuah patokan sekolah tersebut dapat menjamin kualitas output-nya. Karena parameter kualitas diukur berdasarkan proses yang berlangsung cukup lama. Maka, wajar saja jika masih terjadi pelanggaran pada pelaksanaan UNAS tiap tahunnya.
Bagi siswa, orangtua, dan sekolah, lulus adalah sebuah hasil yang paling didambakan. Tentu saja karena akan dapat mengurangi beban berat yang dipikul selama kurun waktu 3 tahun terakhir. Karena kalau kelulusan yang diperoleh, ancang-ancang untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi dapat segera direncanakan. Tapi, dengan adanya kriteria penilaian UNAS yang selama ini berlangsung, hal itu membuat pihak terkait menjadi harap-harap cemas. Maka tak heran kalau kadang kala untuk mendapatkan kelulusan semua cara ditempuh.
Bagi masyarakat luas, tentulah berharap agar tingkat jumlah kelulusan juga berbanding lurus dengan kualitasnya. Karena kalau hanya lebih mengandalkan kuantitas-dan menghiraukan kualitas, maka arah pendidikan kita seperti sebuah formalitas belaka. Intinya, pembenahan tidak boleh dipandang pada sisi siswa atau sekolahnya, tapi juga harus terus mengevaluasi sistem pendidikannya. Kalau semua aspek dapat ditata dengan baik, harapannya tidak terjadi lagi hal yang dapat mencoreng dunia pendidikan kita. Memang bukan hal yang mudah, tapi itu merupakan tugas dan tanggungjawab semua pihak. Bagaimana dengan Anda?

Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...

Rabu, April 22, 2009

Mengapa Berkuliah Kalau Sudah Dapat Kerja??


oleh : Nilam Ramadhani

Ada hal yang menarik ketika saya sedang berinteraksi dengan rekan-rekan mahasiswa di kampus. Karena kondisi ekonomi yang berbeda, terdapat beberapa mahasiswa yang memilih bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan kuliahnya. Dengan kata lain, mereka harus mandiri. Mandiri di dunia kerja, dan mandiri di bangku kuliah. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk melakukan dua hal tersebut sekaligus. Paling tidak, harus dapat mengatur waktu dan menyiapkan tenaga ekstra agar konsentrasi tetap terjaga. Upaya itu supaya keduanya bisa berjalan sesuai ekspektasi. Karena bagaimanapun, bagi seorang yang biaya kuliahnya bergantung kepada pendapatan yang ia peroleh sendiri, keberhasilan adalah medali emas tak ternilai dari semua jerih payah yang telah dilaluinya.
Ketika mem-flashback masa kuliah dulu, memang terdapat beberapa kawan yang kuliah sambil bekerja (atau bekerja sambilannya kuliah??). Dari kawan-kawan itu, terdapat kecenderungan yang cukup signifikan yang saya amati. Ada yang masuk kuliahnya jarang-jarang, sesekali masuk dan seringkali bolos, ada yang terancam DO (drop out), bahkan ada yang “berani” mengundurkan diri. Analisa asal-asalan saya, mereka seperti itu karena sudah tahu enaknya pegang duit. Kalau dompet sudah tebal beraromakan uang, buat apa bersekolah, toh untuk sekolah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Namun perlu digarisbawahi, kawan saya yang demikian bukan berarti lemah di akademik, justru mereka-mereka itu punya otak yang encer. Sah-sah saja melakukan hal demikian, karena tiap manusia memiliki pilihan jalannya masing-masing kan ? :)
Memang banyak motif dan alasan setiap orang berkuliah. Ada yang sekedar ingin cari ijazah meskipun sudah bekerja. Alasannya, agar status level akademis yang tinggi sanggup menyokong karir di kedinasan. Tentu saja agar terjadi penyesuaian “tunjangan” sesuai strata pendidikan. Sebagian lagi berkuliah hanya karena ikut-ikutan teman. Ada juga yang kuliah agar betul-betul ingin mendapat ilmunya. Karena, ilmu yang bermanfaat dapat menaikkan derajat seseorang di mata Sang Pencipta. Kalau bermanfaatnya ilmu sudah ditabur, tak perlu risau rejeki tak menghampiri, karena hal itu semua telah dijamin oleh Pemilik Bumi, Langit beserta isinya (Allah).
Kalau menengok sejarah perjalanan hidup Bill Gates, pemilik Microsoft sekaligus orang terkaya di dunia, dia bukanlah seorang lulusan sarjana. Bill Gates hanyalah seorang mahasiswa drop out karena dulunya dia memang jarang sekali berkuliah. Namun bolosnya Bill Gates bukan karena dia malas, tapi karena tiap harinya Bill Gates hanya tidur 2-4 jam agar proyek perangkat lunaknya dapat diterima di sebuah perusahaan waktu itu. Jadi bisa dikata, Bill Gates meskipun hanyalah seorang drop out, tapi kejeniusannya bak profesor.
Bagi kita-kita yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata, akan lebih realistis kiranya untuk dapat menggali ilmu pengetahuan dari segala sisi, baik itu formal dan informal. Meskipun sejarah mencatat, bahwa banyak orang sukses bukan dari kalangan/lulusan sarjana, namun juga tidak ada justifikasi mutlak bahwa seseorang yang menempuh pendidikan disekolah tidak boleh berhasil. Hal tersebut dikarenakan, setiap individu memiliki tingkat “kenikmatan” yang berbeda ketika berada pada bidang kerja yang disukainya.
Point plus pantas diberikan memang ketika ada seseorang yang “rela” bekerja memeras keringat agar dapat menuntut ilmu di bangku kuliah. Ada paradigma lama yang menyatakan, “Kalau jaman dulu, bekerja agar bisa bersekolah, tapi sekarang, bersekolah agar bisa bekerja”. Memang tidak sepenuhnya salah jika beredar paradigma yang demikian. Karena, tolak ukur untuk sudut pandang itu sangatlah kompleks. Bisa karena sistem politik dan birokrasi, sistem pendidikan, atau bisa juga karena sistem dagang yang dianut di negara ini sehingga terjadilah hal yang seperti itu.
Kesimpulannya, kalau kita mengawali segala sesuatu dengan niat yang baik, yakinlah hal itu akan berbuah kebaikan. Dalam konteks bahasan diatas, banyak hal yang melatarbelakangi mengapa seseorang masih tidak puas dengan zona kenyamanannya. Artinya, tolak ukur hasil untuk tiap orang kadang tidak sama. Yang terpenting adalah, lakukan sesuatu untuk perubahan yang lebih baik, lalu perhatikan apa yang terjadi...
Wassalam...

Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...